Home » 2012 » September

Monthly Archives: September 2012

Sulut Sudah Punya Rencana Kontijensi

MANADO , 20 September 2012  –Kepala badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara, Hoyke Makarawung mengatakan, tiga kabupaten dan kota yaitu Kota Manado, Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Minahasa Utara telah memikiki rencana kontijensi (renkon) penanganan bencana.

“Renkon yang telah disusun lebih spesifik pada bencana gempa bumi dan tsunami,” kata Makarawung, di Manado, Kamis.

Dia mengatakan, penyusunan renkon ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan “Pacific Partnership” yang dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Utara, dan dihadiri peserta pelatihan penanggulangan bencana dari berbagai negara pada pertengahan tahun ini.

“Rencana kontijensi sekarang terus disesuaikan dengan kondisi terkini. Tapi intinya mendapat dukungan penuh dari semua jajaran terkait,” ungkapnya.

Dia mengatakan, disusunnya renkon bencana gempa bumni dan tsunami, karena Sulawesi Utara berada di lempeng aktif yang setiap saat bergeser dan menyebabkan gempa bumi skala kecil hingga kuat.

Gempa yang cukup kuat ini menurut Makarawung harus diantisipasi jangan sampai menimbulkan bencana tsunami dan bisa menghantam permukiman yang berada di pesisir pantai.

Menurut dia, Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara dan Minahasa, memiliki populasi penduduk yang menetap di wilayah pesisir cukup banyak, dan sangat berpotensi diterjang tsunami ketika terjadi gempa kuat.

“Sebagai contoh, jumlah warga Kota Manado yang bermukim di pesisir pantai diperkirakan 60 ribu jiwa. Mereka sangat rentan ketika terjadi bencana tsunami,” ungkapnya.

Dia mengatakan, dalam rekon ini masing-masing pihak seperti SAR, TNI dan Polri, PMI, dinas dinas terkait sudah memiliki standar operasional prosedur penanganan bencana.

“Intinya adalah kesiapan semua pihak pascabencana,” katanya

Agung: Masyarakat Kepulauan Harus Budaya Siaga Bencana

Talaud, 19 September 2012 . Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan masyarakat yang tinggal di kepulauan harus membudayakan siaga bencana, sehingga selalui siap dalam penanganan jika terjadi bencana.

“Ini kedua kalinya saya ke Marampit, dan Sulawesi Utara merupakan provinsi pertama di Indonesia yang mendapat penghargaan internasional dalam hal penanganan bencana. Saya harap ini dibudayakan,” kata Menko Kesra dalam kunjungannya ke Pulau Marampit, Minggu.

Menko Kesra didampingi Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri melakukan kunjungan kerja ke Pulau Marampit, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara dan menyerahkan bantuan untuk masyarakat setempat.

Dalam kunjungan tersebut, mereka disuguhi penampilan simulasi penanganan bencana oleh masyarakat dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dalam program Kampung Siaga Bencana.

Menko Kesra mengatakan, membudayakan siaga bencana sangat diperlukan masyarakat di kepulauan khususnya dan seluruh Indonesia umumnya, sebab wilayah Tanah Air berada di daerah rawan bencana alam.

Ia mencontohkan seperti kearifan lokal yang dimiliki masyarakat di Pulau Simeulue Aceh, saat terjadi gempa dan tsunami 2004 daerah tersebut paling dekat dengan pusat gempa, justru sangat sedikit jatuh korban.

“Mereka sudah terbiasa melakukan upaya-upaya penyelamatan yang disebut warga setempat dengan “smong”, kalau terjadi tanda-tanda bencana alam mereka sudah langsung menyelamatkan diri,” tambah Agung.

Ia menekankan alangkah baiknya jika hal tersebut juga dilakukan di daerah-daerah yang memiliki banyak pulau agar mengajarkan masyarakat bagaimana upaya penyelamatan diri.

“Seperti Jepang yang bencana alamnya lebih berat, tapi mereka bisa hidup harmonis dengan bencana,” ujar Menko Kesra.  (Ant)

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/09/17/74994/agung_masyarakat_kepulauan_harus_budayakan_siaga_bencana/#.UMcNdaz5y_Q

Bencana Karangetang: Malam Mengungsi, Pagi Pulang Rumah

Siau – 16 September 2012, Sedikitnya 24 kepala keluarga (KK) atau 60 jiwa, pengungsi Gunung Karangetang ditampung di Kantor Kelurahan Bebali, Kecamatan Siau Timur, sejak beberapa hari lalu.

Warga yang mayoritas berasal dari Kelurahan Bebali Lingkungan III RT II atau Kampung Kora-Kora, masih tetap menikmati kehidupan di lokasi pengungsian.

Hanya saja, warga berada di kamp pengungsian pada malam hari saja, sedangkan pagi dan siang hari, mereka tetap kembali ke rumah. Terlebih laki-laki, bahkan ada yang tak mau tinggal di tempat pengungsian.

“Torang pe kebun dan binatang piaraan kalau tidak diurus akan mati. Makanya, kami yang laki-laki tetap tinggal di rumah, meski harus ektra waspada. Tapi banyak juga keluarga hanya malam di pengungsian, pagi pulang ke rumah,” ujar para pengungsi.

Lurah Bebali, Hendry Saselah dikonfirmasi mengatakan hingga kini para pengungsi tetap aman-aman saja. “Semua keperluan mereka, makan dan tempat tidur tidak ada masalah. Stok makan cukup untuk mereka. Begitu juga, anak sekolah, mereka sekolah seperti biasanya,” ujarnya.(aha)

http://beritamanado.com/sangihe-talaud-sitaro/bencana-karangetang-malam-mengungsi-pagi-pulang-rumah/124842/

Peringatan Tsunami Resmi Dicabut

Manado 1 September 2012 — Gempa 7,9 SR di Filipina Island pukul 19.47.34 menimbulkan potensi tsunami di Filipina, Belau dan Indonesia. Khusus di Indonesia diperkirakan tsunami dengan gelombang 0,5 meter akan menerjang Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua Barat. Namun tidak berselang beberap jam setelahnya, peringatan tsunami dicabut Pacific Tsunami Warning Center.”Pacific Tsunami Warning Center telah mencabut peringatan tsunami untuk semua wilayah, termasuk Indonesia,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, DR. Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (31/8) malam.

Potensi tsunami ini juga disampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPB) di tiga provinsi tersebut. Hingga berita ini diturunkan belum ada laporan dari tentang terjadinya tsunami di ketiga wilayah itu.

“Alhamdulillah, sampai sekarang tidak terjadi tsunami. Kami akan segera mengumumkan ke masyarakat bahwa peringatan tsunami telah dicabut,” kata Arif Armain Ketua BPBD Malut, kepada JPNN, beberapa saat yang lalu. (abu/jpnn)