Home » 2014 » January

Monthly Archives: January 2014

Puting Beliung Serang Sitaro, Puluhan Orang Hilang

Siau – Musibah melanda kabupaten Sitaro, Sabtu (25/01/2014). Sekitar pukul 10.00 WITA, angin puting beliung membentur daerah pegunungan di wilayah kampung Karalung, kecamatan Siau timur.

Benturan tersebut mengakibatkan banjir bandang. Aliran air melewati kali yang sebelumnya pernah dialiri oleh bencana serupa pada 4 tahun silam. Beruntung sejauh ini tidak ada informasi adanya korban jiwa maupun kerusakan rumah warga.

Wakil Bupati Sitaro, Siska Salindeho langsung menuju lokasi bencana, dan tampak pula para petugas dari BPBD.

Sekretaris Badan Kesbangpol Sitaro Dikson Tadete yang juga langsung mengamati lokasi bencana, menginformasikan bahwa sejauh ini tidak ada korban jiwa.

“Sejauh ini tidak ada korban jiwa akibat bencana ini,” ungkap Dikson.

Informasi lain diterima beritamanado, angin puting beliung tersebut sebelum menabrak pegunungan sempat menabrak perahu penumpang yang membawa 29 orang di wilayah Nameng yang rencanya akan ke pasar Ulu Siau.

Informasi diterima, dari kejadian tersebut dua orang ditemukan meninggal dunia, dan sisanya belum berhasil ditemukan.

Saat ini pencarian korban masih dilakukan menggunakan beberapa kapal termasuk kapal Lohoraung. (Satria/Jerry)

Sumber: http://beritamanado.com/puting-beliung-serang-sitaro-puluhan-orang-hilang/

Akses : Tanggal 26/01/2014 jam 17.21 WITA

Advertisements

TINJAUAN KLIMATOLOGIS BANJIR DI MANADO 15 JANUARI 2014

Banjir kembali menerjang Manado tanggal 15 Januari 2014. Banjir kali ini disebut merupakan banjir terbesar dalam 14 tahun terakhir di Manado. Berdasarkan pengamatan pada beberapa lokasi yang terkena banjir, tinggi genangan air mencapai 3-4 meter atau 3 kali lebih tinggi dibanding genangan yang pernah terjadi sejak banjir terakhir tahun 2000.

Menurut paparan Gubernur Sulawesi Utara total kerugian yang terjadi akibat banjir tersebut mencapai Rp. 1,871 T. Jumlah korban meninggal dunia mencapai 18 orang yang tersebar di Manado sebanyak enam orang, Tomohon lima orang, Kabupaten Minahasa Utara satu orang, dan Minahasa sebanyak enam orang, sementara dua orang masih dalam pencarian (sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/01/18/mzlqts-kerugian-akibat-bencana-di-sulut-capai-rp187-triliun).

Analisis yang muncul di media massa menyebut anomali cuaca sebagai penyebabnya. Benarkah demikian ? Sebagaimana diketahui, banjir merupakan fungsi dari banyak faktor seperti hujan, sistem drainase, penggunaan lahan dan lain-lain namun sering cuaca menjadi kambing hitam.


Gambar 1. Peta Terdampak Genangan Banjir di Manado

Berikut disajikan kondisi curah hujan 1-3 hari sebelum kejadian banjir, histori hujan maksimum dan perbandingan curah hujan pada empat kejadian banjir di Manado.

  1. Kondisi Curah Hujan 1-3 Hari sebelum Kejadian

    Tabel 1. Data Curah Hujan (mm) pada tanggal 13-15 Januari 2014
    Berdasarkan data Tabel 1 terlihat bahwa curah hujan dalam 24 jam sebelum kejadian cukup tinggi, di mana hujan maksimum terjadi pada daerah aliran DAS yaitu di Airmadidi dan Tomohon. Adapun pada hulu sungai di Tondano dan bagian hilir di Manado curah hujannya lebih rendah dibanding curah hujan yang terjadi pada aliran DAS di Airmadidi dan Tomohon. Kondisi curah hujan 2-3 hari sebelum kejadian masih rendah kecuali di Airmadidi.

  2. Histori banjir dan Kondisi Curah Hujan

    Berdasarkan catatan, terdapat empat kejadian banjir besar di Manado yaitu :

    • 03 Desember 2000,
    • 21 Februari 2006,
    • 17 Februari 2013 dan
    • 15 Januari 2014

     

    Kondisi curah hujan pada saat kejadian banjir tersebut di atas sebagaimana tersaji pada Tabel 2 di bawah ini :
    Tabel 2. Data Curah Hujan (mm) pada empat Kejadian banjir di Manado

    Berdasarkan Tabel 2 di atas terlihat, untuk wilayah di sekitar Manado dan juga Hulu DAS Tondano, curah hujan yang terjadi pada 15 Januari 2014 lebih rendah di banding curah hujan pada saat banjir 17 Februari 2013. Sebaliknya pada aliran DAS curah hujan 15 Januari 2014 merupakan curah hujan tertinggi dalam 4 kejadian banjir

  3. Histori Hujan Maksimum

    Histori hujan Maksimum pada bulan Januari pada ke-6 titik di atas adalah sebagai berikut :

    1. Stageof Winangun
      Tabel 3. Curah hujan Maksimum Harian Winangun pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    2. Staklim Kayuwatu Manado
      Tabel 4. Curah hujan Maksimum Harian Kayuwatu pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    3. Stamet Samrat Manado
      Tabel 5. Curah hujan Maksimum Harian Samrat pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    4. Distan Airmadidi
      Tabel 6. Curah hujan Maksimum Harian Airmadidi pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    5. BP3K Tomohon Utara
      Tabel 7. Curah hujan Maksimum Harian Tomohon Utara pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    6. Maksimum harian Stageof Tondano
      Tabel 8. Curah hujan Maksimum Harian Tondano pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan

    Berdasarkan curah hujan maksimum pada 6 lokasi tersebut, terlihat bahwa curah hujan yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2014 di Manado dan pada hulu DAS Tondano tidak masuk dalam 5 kejadian maksimum tertinggi selama 30 tahun.

    Adapun curah hujan pada Airmadidi yang merupakan DAS Tondano dan curah hujan pada Tomohon yang merupakan DAS Malalayang curah hujannya adalah maksimum tertinggi yang pernah terjadi.

     

  4. Analisis

    Berdasarkan data curah hujan dan histori hujan maksimum harian sebagaimana dipaparkan sebelumnya dapat diuraikan bahwa Curah hujan yang terjadi di Manado dan pada hulu DAS Tondano pada saat banjir tanggal 15 Januari 2014 bukan merupakan hujan maksimum harian yang pernah terjadi. Adapun Curah hujan yang terjadi di Manado pada hulu DAS Tondano pada saat banjir tanggal 15 Januari 2014 lebih rendah dibandingkan curah hujan pada saat banjir 17 Februari 2013. Dengan demikian cuaca yang terjadi di Manado bukan penyebab utama terjadinya banjir yang terjadi di Manado.

    Kondisi Curah hujan maksimum 24 jam sebelum banjir tanggal 15 Januari 2014 terjadi pada aliran DAS Sungai Tondano di sekitar Airmadidi dan dan aliran DAS Malalayang di sekitar Tomohon. Curah hujan maksimum tersebut merupakan hujan maksimum yang pernah terjadi pada aliran DAS tersebut. Curah hujan inilah yang memicu meluapnya sungai-sungai yang menuju Manado.

    Distribusi hujan pada tanggal 15 Januari menunjukkan terjadi maksimum hujan pada daerah lereng-lereng di bagian selatan, barat daya dan bagian timur Manado. Hal ini dapat diamati pada Gambar 2 di bawah ini di mana, semakin ke bagian lereng curah hujannya semakin tinggi. Airmadidi dan Tomohon yang merupakan bagian dari aliran DAS sungai-sungai yang menuju Manado. Keduanya merupakan daerah yang berada dilereng perbukitan di sekitar Manado.


    Gambar 2. Distribusi curah hujan tanggal 15 Januari 2014

    Jika dikaitkan dengan pola angin sebagaimana terlihat pada Gambar 3, maka curah hujan maksimum pada kedua daerah tersebut karena adanya efek orografis. Sistem tekanan rendah di Utara Sulawesi Utara menyebabkan adanya konvergensi di Sulawesi Utara yang menyebabkan terjadinya hujan di Manado dan sekitarnya. Arah aliran angin konvergen tersebut kemudian menabrak lereng-lereng bukit yang ada di sekitar Manado membentuk efek hujan orografis. Dampaknya adalah peningkatan potensi hujan pada lereng-lereng tersebut yang kemudian mengalir menuju sungai sepanjang aliran DAS.


    Gambar 3. Pola angin tanggal 14 Januari 2014

  5. Kesimpulan

    Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

    • Curah hujan yang terjadi di Manado dan juga di hulu DAS Tondano bukan merupakan curah hujan maksimum yang pernah terjadi dan masih lebih rendah di banding curah hujan yang terjadi pada saat banjir tanggal 17 Februari 2013
    • Meluapnya sungai yang menuju Manado adalah karena hujan maksimum pada daerah lereng-lereng pada aliran DAS.

     

Penyusun :
– Wan Dayantolis, MSi
– Heru Tribuwono Fitri, SSi

UPT :Stasiun Klimatologi Manado, BMKG Sulut
Email :wan.dayantolis@bmkg.go.id