Home » Manado

Category Archives: Manado

TINJAUAN KLIMATOLOGIS BANJIR DI MANADO 15 JANUARI 2014

Banjir kembali menerjang Manado tanggal 15 Januari 2014. Banjir kali ini disebut merupakan banjir terbesar dalam 14 tahun terakhir di Manado. Berdasarkan pengamatan pada beberapa lokasi yang terkena banjir, tinggi genangan air mencapai 3-4 meter atau 3 kali lebih tinggi dibanding genangan yang pernah terjadi sejak banjir terakhir tahun 2000.

Menurut paparan Gubernur Sulawesi Utara total kerugian yang terjadi akibat banjir tersebut mencapai Rp. 1,871 T. Jumlah korban meninggal dunia mencapai 18 orang yang tersebar di Manado sebanyak enam orang, Tomohon lima orang, Kabupaten Minahasa Utara satu orang, dan Minahasa sebanyak enam orang, sementara dua orang masih dalam pencarian (sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/01/18/mzlqts-kerugian-akibat-bencana-di-sulut-capai-rp187-triliun).

Analisis yang muncul di media massa menyebut anomali cuaca sebagai penyebabnya. Benarkah demikian ? Sebagaimana diketahui, banjir merupakan fungsi dari banyak faktor seperti hujan, sistem drainase, penggunaan lahan dan lain-lain namun sering cuaca menjadi kambing hitam.


Gambar 1. Peta Terdampak Genangan Banjir di Manado

Berikut disajikan kondisi curah hujan 1-3 hari sebelum kejadian banjir, histori hujan maksimum dan perbandingan curah hujan pada empat kejadian banjir di Manado.

  1. Kondisi Curah Hujan 1-3 Hari sebelum Kejadian

    Tabel 1. Data Curah Hujan (mm) pada tanggal 13-15 Januari 2014
    Berdasarkan data Tabel 1 terlihat bahwa curah hujan dalam 24 jam sebelum kejadian cukup tinggi, di mana hujan maksimum terjadi pada daerah aliran DAS yaitu di Airmadidi dan Tomohon. Adapun pada hulu sungai di Tondano dan bagian hilir di Manado curah hujannya lebih rendah dibanding curah hujan yang terjadi pada aliran DAS di Airmadidi dan Tomohon. Kondisi curah hujan 2-3 hari sebelum kejadian masih rendah kecuali di Airmadidi.

  2. Histori banjir dan Kondisi Curah Hujan

    Berdasarkan catatan, terdapat empat kejadian banjir besar di Manado yaitu :

    • 03 Desember 2000,
    • 21 Februari 2006,
    • 17 Februari 2013 dan
    • 15 Januari 2014

     

    Kondisi curah hujan pada saat kejadian banjir tersebut di atas sebagaimana tersaji pada Tabel 2 di bawah ini :
    Tabel 2. Data Curah Hujan (mm) pada empat Kejadian banjir di Manado

    Berdasarkan Tabel 2 di atas terlihat, untuk wilayah di sekitar Manado dan juga Hulu DAS Tondano, curah hujan yang terjadi pada 15 Januari 2014 lebih rendah di banding curah hujan pada saat banjir 17 Februari 2013. Sebaliknya pada aliran DAS curah hujan 15 Januari 2014 merupakan curah hujan tertinggi dalam 4 kejadian banjir

  3. Histori Hujan Maksimum

    Histori hujan Maksimum pada bulan Januari pada ke-6 titik di atas adalah sebagai berikut :

    1. Stageof Winangun
      Tabel 3. Curah hujan Maksimum Harian Winangun pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    2. Staklim Kayuwatu Manado
      Tabel 4. Curah hujan Maksimum Harian Kayuwatu pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    3. Stamet Samrat Manado
      Tabel 5. Curah hujan Maksimum Harian Samrat pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    4. Distan Airmadidi
      Tabel 6. Curah hujan Maksimum Harian Airmadidi pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    5. BP3K Tomohon Utara
      Tabel 7. Curah hujan Maksimum Harian Tomohon Utara pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan
    6. Maksimum harian Stageof Tondano
      Tabel 8. Curah hujan Maksimum Harian Tondano pada Setiap Bulan Januari dan pada keselurahan Bulan

    Berdasarkan curah hujan maksimum pada 6 lokasi tersebut, terlihat bahwa curah hujan yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2014 di Manado dan pada hulu DAS Tondano tidak masuk dalam 5 kejadian maksimum tertinggi selama 30 tahun.

    Adapun curah hujan pada Airmadidi yang merupakan DAS Tondano dan curah hujan pada Tomohon yang merupakan DAS Malalayang curah hujannya adalah maksimum tertinggi yang pernah terjadi.

     

  4. Analisis

    Berdasarkan data curah hujan dan histori hujan maksimum harian sebagaimana dipaparkan sebelumnya dapat diuraikan bahwa Curah hujan yang terjadi di Manado dan pada hulu DAS Tondano pada saat banjir tanggal 15 Januari 2014 bukan merupakan hujan maksimum harian yang pernah terjadi. Adapun Curah hujan yang terjadi di Manado pada hulu DAS Tondano pada saat banjir tanggal 15 Januari 2014 lebih rendah dibandingkan curah hujan pada saat banjir 17 Februari 2013. Dengan demikian cuaca yang terjadi di Manado bukan penyebab utama terjadinya banjir yang terjadi di Manado.

    Kondisi Curah hujan maksimum 24 jam sebelum banjir tanggal 15 Januari 2014 terjadi pada aliran DAS Sungai Tondano di sekitar Airmadidi dan dan aliran DAS Malalayang di sekitar Tomohon. Curah hujan maksimum tersebut merupakan hujan maksimum yang pernah terjadi pada aliran DAS tersebut. Curah hujan inilah yang memicu meluapnya sungai-sungai yang menuju Manado.

    Distribusi hujan pada tanggal 15 Januari menunjukkan terjadi maksimum hujan pada daerah lereng-lereng di bagian selatan, barat daya dan bagian timur Manado. Hal ini dapat diamati pada Gambar 2 di bawah ini di mana, semakin ke bagian lereng curah hujannya semakin tinggi. Airmadidi dan Tomohon yang merupakan bagian dari aliran DAS sungai-sungai yang menuju Manado. Keduanya merupakan daerah yang berada dilereng perbukitan di sekitar Manado.


    Gambar 2. Distribusi curah hujan tanggal 15 Januari 2014

    Jika dikaitkan dengan pola angin sebagaimana terlihat pada Gambar 3, maka curah hujan maksimum pada kedua daerah tersebut karena adanya efek orografis. Sistem tekanan rendah di Utara Sulawesi Utara menyebabkan adanya konvergensi di Sulawesi Utara yang menyebabkan terjadinya hujan di Manado dan sekitarnya. Arah aliran angin konvergen tersebut kemudian menabrak lereng-lereng bukit yang ada di sekitar Manado membentuk efek hujan orografis. Dampaknya adalah peningkatan potensi hujan pada lereng-lereng tersebut yang kemudian mengalir menuju sungai sepanjang aliran DAS.


    Gambar 3. Pola angin tanggal 14 Januari 2014

  5. Kesimpulan

    Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

    • Curah hujan yang terjadi di Manado dan juga di hulu DAS Tondano bukan merupakan curah hujan maksimum yang pernah terjadi dan masih lebih rendah di banding curah hujan yang terjadi pada saat banjir tanggal 17 Februari 2013
    • Meluapnya sungai yang menuju Manado adalah karena hujan maksimum pada daerah lereng-lereng pada aliran DAS.

     

Penyusun :
– Wan Dayantolis, MSi
– Heru Tribuwono Fitri, SSi

UPT :Stasiun Klimatologi Manado, BMKG Sulut
Email :wan.dayantolis@bmkg.go.id

Draft Peta Ancaman Bencana di Kota Manado

Peta Ancaman Gunung Api di Sulawesi Utara

Kondisi Geografis Kota Manado

Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada posisi geografis 124°40′ – 124°50′ BT dan 1°30′ – 1°40′ LU. Iklim di kota ini adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° – 27° C. Curah hujan rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari. Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53% dan kelembaban nisbi ±84 %.

Luas wilayah daratan adalah 15.726 hektar. Manado juga merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya didominasi oleh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ketinggian dataran antara 0-40% dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.

Wilayah perairan Kota Manado meliputi pulau Bunaken, pulau Siladen dan pulau Manado Tua. Pulau Bunaken dan Siladen memiliki topografi yang bergelombang dengan puncak setinggi 200 meter. Sedangkan pulau Manado Tua adalah pulau gunung dengan ketinggian ± 750 meter.

Sementara itu perairan teluk Manado memiliki kedalaman 2-5 meter di pesisir pantai sampai 2.000 meter pada garis batas pertemuan pesisir dasar lereng benua. Kedalaman ini menjadi semacam penghalang sehingga sampai saat ini intensitas kerusakan Taman Nasional Bunaken relatif rendah.

Jarak dari Manado ke Tondano adalah 28 km, ke Bitung 45 km dan ke Amurang 58 km.

Data Informasi Bencana Indonesia

Data Informasi Bencana

Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) adalah sebuah aplikasi yang dibangun atas kerjasama BNPB, BAPPENAS, DEPDAGRI, UNDP dan DFID.  DiBi sendiri telah secara resmi diluncurkan penggunaannya oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tanggal 29 Juli 2008 yang mana peluncurannya juga dihadiri perwakilan dari UNDP Indonesia, perwakilan organisasi dari negara-negara donor lain (NGO) dan institusi pemerintah terkait lainnya.

Diharapkan DiBi dapat mendukung BNPB dalam hal meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana baik di tingkat pusat maupun daerah, mendukung dalam pelaksanaan kegiatan pembuatan laporan kejadian bencana secara tepat dan cepat, serta memberikan informasi yang lengap dan aktual pada semua pihak yang terkait dengan unsur penanggulangan bencana baik di Indonesia maupun negara asing melalui fasilitas global.

Berdasarkan data and informasi dari Provinsi Sulawesi Utara terdapat total 240 data cards, 233 kejadian bencana, 5.196 korban meninggal, 21,601 orang luka luka, 156 orang hilang,   93,260 warga yang menderita, 168,319 warga mengungsi, 3,692 rumah rusak berat, 638 rusak sedang dan 5766 rusak ringan.

Dibi masih perlu disempurnakan dengan update data yang terbaru. Saat ini terdapat 13 Kabupaten/kota yang tercatat di Dibi yang belum termasuk adalah Bolaang Mongondow Selatan dan Bolaang Mongondow Timur. Semoga BNPB dapat pemperbaharui Dibi agar mencatat semua kejadian bencana yang terjadi di semua 15 kabupaten/  kota yang ada di Sulawesi Utara.

Sumber: http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/simple_data.jsp

Data Informasi Bencana Manado

 

Data Informasi Bencana Manado

Sumber: http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/dashboard.jsp

JICA Teliti Gunung Api Sulut

Manado – 17 pakar gunung berapi Jepang yang tergabung dalam , ikut aktif meneliti keberadaan sejumlah gunung berapi di Sulut. Keberadaan mereka di Sulut, untuk mengikuti seminar aktivitas vulkanik dan penanggulangan bencana gunung berapi yang digelar di Hotel Lion Manado.

“Kegiatan seminar ini diikuti oleh JICA Jepang 17 orang, BNPB 20 orang, tim peneliti Gunung Api Indonesia, Kepolisian, TNI, , Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, NTT, instansi terkait dan organisasi kemasyarakatan,” ujar Kepala , saat memberikan sambutan.

Hadir pada kesempatan itu Mr Tokunaga Yoshio sebagai JICA Expert on Disaster Management, Dr Surono Kepala PVMBG, Ir Pitoyo Subandrio dari kementrian PU, Ir Medi Herlianto dari Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Forkompinda Sulut dan organisasi masyarakat.(jrp)

Sumber:http://beritamanado.com/more/berita-singkat/jica-teliti-gunung-api-sulut/184223/